Masa Lalu

Sore itu 8 tahun yang lalu,

Kami berkumpul di pinggiran ‘sungai’ yang cukup panas. Sebuah pisau di tangan kanan dan sebatang tebu di tangan kiri yang siap dikupas sudah menjadi kebiasaan kami jika berkumpul di pinggir sungai. Sesekali mata kami menghadap ke atas langit melihat beberapa layangan sedang beradu. Tak jarang kelakar konyol keluar dari mulut kami sembari tetap mengunyah irisan tebu yang manis. Kedua kaki kami sengaja kami celupkan ke dalam ‘sungai’ yang cukup panas. Yap ‘sungai’ yang cukup panas karena ‘sungai’ ini adalah limbah pembuangan dari pabrik tebu di desa kami. Kami biasa manyebutnya songay anga’. Di pinggiran ‘sungai’ ini, kami biasa bermain petak umpet bersama-sama. Menerbangkan layangan ataupun hanya sekedar memainkan perahu mini yang kami buat dari botol bekas.

Sore itu 8 tahun yang lalu,

Kami berkumpul di sebuah taman mini di dalam kompleks perumahan Pabrik Gula. Rumah-rumahan mirip tarzan sengaja kami buat di atas pohon besar yang sudah puluhan tahun berdiri di atas sana. Beberapa diantara kami terlihat bermain bola plastik kusam yang kami beli dari hasil patungan. Kaki-kaki dekil dan kotor sudah menjadi pemandangan yang biasa. Cacian orang-orang komplek juga terbiasa kami dengar ketika kami nekat mencuri mangga, belimbing, jambu mete, kedongdong dan pepaya milik orang komplek. Teguran keras dari satpam komplek seolah hanya ‘masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri‘ saat kami bermain dan bercanda di atap gedung lapangan tenis. Tak terhitung berapa bola tenis yang sering kami colong hanya untuk bermain kasti.

Sore itu 8 tahun yang lalu,

Kami bersepeda menyusuri tempat-tempat yang jauh dan terpencil. Bendungan air yang jernih, alas kecil yang angker, pantai yang sepi pengunjung, dan pinggiran rel kereta pengangkut tebu adalah tempat favorit kami. Sesekali kami berhenti di pinggir sungai hanya untuk bermain air. Panas terik matahari menjadi peneman kami saat itu.

Aku ingin kembali ke masa itu. Kembali menjadi anak kampung yang dekil dan kotor. Kembali berkumpul bersama teman-teman kampung hanya untuk sekedar bercanda. Tanpa hape, tanpa laptop, tanpa facebook, tanpa internet. Aku rindu masa lalu. 😉

Advertisements

71 thoughts on “Masa Lalu

  1. tentu nya orang rindu masa lalu, termasuk aku..masa lalu nya kocak2 :)) ahh coba aku udah kenal handycam tempo dulu, pasti udah banyak banget hasil rekaman nya sekarang…

    “jaman dulu teknologi masih blom berkembang”

  2. masa lalu memang selalu merindukan…kecuali masa lalu yg buruk selalu dirindukan u/dilupakan hehehehe…tapi sekuat apapun rindunya masa lalu ga pernah kembali 😦

    “iya juga sih huhuhu”

  3. btw, setelah sesaat membaca paragraf pertama tiba2 saya teringat storyboard bikinan tmn di kantor yang mnceritakan ttg gerakan cinta hijau.

    “ih wow. masa bang? hihi”

  4. 8 tahun ya lalu.. gue gainget ngapain aja -_-

    hehehe yah namanya juga kenangan, pasti indah. oiya, gue juga pas kecil suka makan tebu punya tetangga :-p

    “masa lalu yang suram ya? ckck”

  5. wooow profesor sudah ahli nulis narasi,,kren aku jadi terbayang bayang masa kecil dulu ^^
    (annoyed)

    “pasti masa kecil yang serem abis (okok)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s